Biology Update:
Tampilkan postingan dengan label Fabel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fabel. Tampilkan semua postingan
15.42
Kisah Kamal dan Kuda Laut
Kamal pergi bersama keluarganya ke pantai di sebuah pondok liburan. Di sana terdapat sebuah akuarium di depan sebuah toko kecil dengan beberapa makhluk laut yang menarik di dalamnya. Kamal mendekati akuarium tersebut dan melihat seekor kuda laut berenang di seputar dalam akuarium dengan pelan-pelan.
“Kamu benar,” sang kuda laut setuju. “Allah menciptakan kepala kami pada sudut yang tepat terhadap kepala kami. Tidak ada makhluk laut lain yang memiliki ciri seperti ini. Karenanya, kami berenang dengan tubuh kami pada posisi tegak dan kami hanya dapat menggerakkan kepala kami ke atas atau ke bawah. Sebenarnya, jika makhluk lain memiliki ciri seperti ini, mereka akan kesulitan menggerakkan kepala mereka ke kiri dan kanan dan tidak akan mampu melindungi diri mereka dari segala macam bahaya. Namun kami tidak mempunyai masalah tersebut karena rancangan tubuh kami yang khusus.
“Kamu sangat kecil,” kata Kamal. “Aku pikir kuda laut lebih besar lagi.”
“Ya,” jawab sang kuda laut. “Mereka yang melihat kami di buku-buku dan televisi berpikir bahwa kami jauh lebih besar dari ukuran kami sebenarnya, yang hanya antara 2 dan 12 inci (4 dan 30 cm).”
Kamal melihat lebih dekat: “Matamu dapat bergerak ke segala arah, ya? Dan karenanya kamu dapat mengetahui apa yang terjadi di sekelilingmu.”
“Kamu benar,” sang kuda laut setuju. “Allah menciptakan kepala kami pada sudut yang tepat terhadap kepala kami. Tidak ada makhluk laut lain yang memiliki ciri seperti ini. Karenanya, kami berenang dengan tubuh kami pada posisi tegak dan kami hanya dapat menggerakkan kepala kami ke atas atau ke bawah. Sebenarnya, jika makhluk lain memiliki ciri seperti ini, mereka akan kesulitan menggerakkan kepala mereka ke kiri dan kanan dan tidak akan mampu melindungi diri mereka dari segala macam bahaya. Namun kami tidak mempunyai masalah tersebut karena rancangan tubuh kami yang khusus.Allah Yang Mahakuasa telah menciptakan mata kami tidak saling bergantung satu sama lain dan mampu bergerak dengan leluasa ke segala arah, dan saat mata itu bergerak mata dapat melihat dengan mudah ke sekelilingnya. Jadi, walaupun kami tidak memalingkan kepala kami dari sisi ke sisi, kami dapat melihat sekeliling kami.
Dengan kekayaan beraneka ragam rancangan dan sifat-sifat menakjubkan yang Dia ciptakan dalam makhluk hidup, Allah menunjukkan kepada kita pengetahuan yang tidak terbatas dan daya seni-Nya yang tiada akhir.” 

Kamal memikirkan pertanyaan lain yang ingin ditanyakannya: “Ada hal yang membuatku ingin tahu: kamu tidak memiliki sayap atau ekor, jadi bagaimanakah kamu bergerak ke atas dan ke bawah di dalam air?”
Sang kuda laut menjawab: “Kami memiliki sistem khusus dalam berenang. Kami memiliki kantung renang dengan semacam gas di dalamnya. Dengan melakukan perubahan yang diperlukan dalam jumlah gas tersebut, kami dapat bergerak ke atas dan ke bawah di dalam air. Jika kantung udara ini rusak, kami akan tenggelam ke dasar laut.
Dengan kata lain, bila terjadi perubahan jumlah gas dalam kantung renang kami, kami akan mati. Allah telah menetapkan jumlah ini dengan sangat hati-hati.”

“Sebuah rancangan yang sangat menakjubkan!” hela Kamal.
“Seperti yang kamu lihat, teman kecilku,” sang kuda laut meneruskan, “Allah telah menciptakan kuda laut dan setiap makhluk lainnya di alam semesta dengan sifat-sifat mereka yang sempurna. Kami para kuda laut, hanyalah salah satu dari banyak jenis makhluk di bawah laut, danrancangan kami adalah contoh dari Kekuasaan yang tiada batas dan Pengetahuan tiada akhir milik Allah.”
Saat percakapannya dengan sang kuda laut berakhir, Kami kembali kepada ibunya. Rancangan yang menakjubkan dalam binatang mungil ini membuat Kamal semakin ingin tahu mengenai daya seni kreatif Allah.
Labels:
Fabel
06.16
Akbar sedang makan, sambil menonton film kartun di televisi. Dalam kartun itu, seekor burung unta berlari dikejar anjing. Burung unta lari begitu cepat hingga ia dapat melarikan diri dari sang anjing, dan kembali berkumpul dengan teman-temannya di sarang. Sebelumnya, Akbar selalu mengira burung unta adalah sejenis unggas yang kerjanya membenamkan kepala di dalam pasir. Akbar tak tahu kalau burung unta juga pelari yang hebat.
“Kamu benar,” kata burung unta terengah-engah, kehabisan napas. “Kami adalah burung-burung terbesar di dunia. Kami lebih tinggi dibanding manusia! Contohnya, aku. Tinggiku dua setengah meter, dan beratku 265 pon (120 kilogram). Kami tidak bisa terbang, namun Allah memberi kami kemampuan yang berbeda sehingga kami dapat melarikan diri dari musuh-musuh kami. Kami berlari sangat cepat dengan kaki-kaki panjang kami, begitu cepat hingga tak seorang pun dapat menangkap kami kalau berlari dengan kakinya sendiri. Di dunia makhluk hidup, kami adalah pelari cepat yang memiliki dua kaki. Kami bisa mencapai kecepatan hingga sekitar 45 mil (70 kilometer) per jam jika kami betul-betul berlari.”
Akbar memperhatikan teman barunya lebih seksama. “Bisa saja aku salah. Tapi, kakimu Cuma punya dua jari ya? Betul, nggak?”
Burung unta tersenyum, dan menjilat-jilat bulu-bulunya. “Kalau kami membuat lubang itu di dalam tanah, bukannya di pasir, maka pengeraman telur akan berlangsung lama sekali. Itu membuat kami sangat lelah. Memindahkan pasir jauh lebih mudah dibanding memindahkan tanah. Kamu bahkan bisa menggali pasir dengan jarimu, sementara untuk menggali tanah, kamu memerlukan sekop. Itulah mengapa kami lebih suka memanfaatkan pasir. Dengan pasir, kami dapat melakukan pekerjaan kami lebih cepat, tanpa perlu terlalu melelahkan diri.”
Kisah Akbar dan Burung Unta
Akbar sedang makan, sambil menonton film kartun di televisi. Dalam kartun itu, seekor burung unta berlari dikejar anjing. Burung unta lari begitu cepat hingga ia dapat melarikan diri dari sang anjing, dan kembali berkumpul dengan teman-temannya di sarang. Sebelumnya, Akbar selalu mengira burung unta adalah sejenis unggas yang kerjanya membenamkan kepala di dalam pasir. Akbar tak tahu kalau burung unta juga pelari yang hebat.“Maksudmu, kamu tidak tahu kalau kami bisa berlari cepat?” tanya sebuah suara.
Akbar memperhatikan sekelilingnya, terkejut, sebelum menyadari bahwa suara itu berasal dari televisi. Ia mendekatinya dan mulai berbicara dengan si burung unta di layar televisi.
“Kamu benar,” kata burung unta terengah-engah, kehabisan napas. “Kami adalah burung-burung terbesar di dunia. Kami lebih tinggi dibanding manusia! Contohnya, aku. Tinggiku dua setengah meter, dan beratku 265 pon (120 kilogram). Kami tidak bisa terbang, namun Allah memberi kami kemampuan yang berbeda sehingga kami dapat melarikan diri dari musuh-musuh kami. Kami berlari sangat cepat dengan kaki-kaki panjang kami, begitu cepat hingga tak seorang pun dapat menangkap kami kalau berlari dengan kakinya sendiri. Di dunia makhluk hidup, kami adalah pelari cepat yang memiliki dua kaki. Kami bisa mencapai kecepatan hingga sekitar 45 mil (70 kilometer) per jam jika kami betul-betul berlari.”
Akbar memperhatikan teman barunya lebih seksama. “Bisa saja aku salah. Tapi, kakimu Cuma punya dua jari ya? Betul, nggak?”Burung unta mengangkat salah satu kakinya agar Ali bisa memperhatikan lebih baik. “Ya. Kami hanya punya dua jari di setiap kaki. Dan salah satu dari jari ini lebih besar dibanding yang lain. Kami hanya berlari menggunakan jari besar kami. Seperti kaulihat, Allah menciptakan kami persis seperti Ia menciptakan makhluk hidup lainnya. Semua berawal dari ketiadaan dalam cara yang unik. Ia memberi kami sejumlah besar ciri-ciri untuk membantu kami bertahan hidup. Kami punya banyak ciri yang berbeda dibanding burung lain yang mungkin kamu kenal …”
“Itu benar sekali,” Ali merenung. “Aku memikirkan bagaimana caramu menetaskan anak ke dunia ini?”
“Well, Akbar,” jawab si burung unta. “Karena badan kami sangat besar, maka telur kami pun juga sangat besar. Kami menggali sebuah lubang besar di pasir, dan kami kuburkan telur-telur raksasa kami di dalamnya. Kami letakkan 10 sampai 12 telur sekaligus, karena itu, kami harus membuat sebuah lubang besar yang cukup untuk semua telur. Dengan kata lain, kami betul-betul menggali sebuah lubang yang sangat besar.” Akbar menimbang selama satu dua detik. “Mengapa kamu membuat lubang-lubang itu di pasir?” ia bertanya pada teman barunya.
Burung unta tersenyum, dan menjilat-jilat bulu-bulunya. “Kalau kami membuat lubang itu di dalam tanah, bukannya di pasir, maka pengeraman telur akan berlangsung lama sekali. Itu membuat kami sangat lelah. Memindahkan pasir jauh lebih mudah dibanding memindahkan tanah. Kamu bahkan bisa menggali pasir dengan jarimu, sementara untuk menggali tanah, kamu memerlukan sekop. Itulah mengapa kami lebih suka memanfaatkan pasir. Dengan pasir, kami dapat melakukan pekerjaan kami lebih cepat, tanpa perlu terlalu melelahkan diri.”“Setelah telur-telur kami letakkan di dalam lubang, juga lebih mudah untuk menutupinya dengan pasir.Tahukah kamu, di dunia saat ini, terdapat jutaan makhluk hidup yang berbeda-beda jenisnya. Semua makhluk memiliki ciri-ciri luarbiasa. Allah menciptakan kami semua. Allahlah yang mengajari apapun yang kami lakukan.”
Akbar bangkit saat program itu hampir berakhir. “Bertemu denganmu semakin menambah cinta dan kedekatanku pada Allah. Terima kasih untuk semua yang telah kauceritakan padaku. Sampai jumpa.”
Labels:
Fabel
06.11
Rian sedang berbaring di taman membaca sebuah buku. Matanya beralih dari buku yang tengah dibacanya, dan ketika ia memperhatikan sekelilingnya, ia melihat sebuah jaring laba-laba di cabang sebuah pohon. Riani bangkit dan mendekati jaring laba-laba itu, yang mulai diperiksanya dengan penuh minat. Laba-laba yang ada di dekat jaring kemudian berbicara padanya.
Rian kemudian berpikir sejenak. “Aku tidak pernah mampu melakukan hal-hal seperti itu. Misalnya, mengikat seutas benang dengan kencang di antara dua tembok. Sulit ‘kan mengikat benang dengan kencang?”
“Wah, metode yang luarbiasa!” kata Rian, yang sangat terkesan. “Bagaimana kalian mempelajari teknik semacam itu, dan bagaimana kalian memanfaatkannya dengan baik? Laba-laba mestinya sudah melakukan hal ini berjuta tahun lamanya ...”
Kisah Rian dan Laba-laba
Rian sedang berbaring di taman membaca sebuah buku. Matanya beralih dari buku yang tengah dibacanya, dan ketika ia memperhatikan sekelilingnya, ia melihat sebuah jaring laba-laba di cabang sebuah pohon. Riani bangkit dan mendekati jaring laba-laba itu, yang mulai diperiksanya dengan penuh minat. Laba-laba yang ada di dekat jaring kemudian berbicara padanya.“Salam, teman!” kata laba-laba dengan suara kecil.
“Salam,” balas Rian, yang selalu sangat sopan. “Jaring yang kamu bikin ini betul-betul sangat menarik. Bagaimana kamu membuatnya?”
Laba-laba itu menarik napas dalam-dalam dan mulai menjelaskan. “Aku mulai dengan menemukan tempat yang tepat untuk itu. Tempatnya harus di sebuah sudut, atau di antara dua objek terdekat. Biar kujelaskan bagaimana aku membuat sebuah jaring di antara dua cabang pohon. Pertama, aku memasang benang dengan kencang pada salah satu cabang. Kemudian, aku pergi ke sisi lain sambil terus mengeluarkan benang. Ketika sudah mencapai jarak yang tepat, aku berhenti menghasilkan benang. Kemudian, aku mulai menarik benang kembali mengarah pada diriku, sampai benang itu merentang kencang. Aku memasangnya di tempatku berada. Kemudian, aku mulai memintal jaring di dalam bagian lengkung yang sudah kubuat.”
Rian kemudian berpikir sejenak. “Aku tidak pernah mampu melakukan hal-hal seperti itu. Misalnya, mengikat seutas benang dengan kencang di antara dua tembok. Sulit ‘kan mengikat benang dengan kencang?”Laba-laba itu tersenyum padanya. “Biar kujelaskan bagaimana kau memecahkan masalah itu. Terkadang, aku membuat sebuah jaring di antara dua cabang yang jaraknya cukup panjang satu sama lain. Karena jaring-jaring semacam itu sangat besar, mereka juga betul-betul bagus untuk menjebak serangga-serangga. Namun karena jaring itu besar, berulangkali ia kehilangan tegangannya. Hal itu juga mengurangi keberhasilanku menangkap serangga. Aku pergi ke tengah jaring dan memasang seutas benang yang merentang ke bawah. Kusambungkan sebuah batu kecil ke benang ini. Kemudian aku kembali ke jaring dan mencoba menggulung benang ke atas dari tempat batu itu. Sementara batu tergantung di udara, aku memasang benang kembali dengan erat di tengah jaring. Hasilnya, karena batu di bawah pusat jaring terdorong ke bawah, jaring akan merentang tegang kembali. Begitulah caranya!”
“Wah, metode yang luarbiasa!” kata Rian, yang sangat terkesan. “Bagaimana kalian mempelajari teknik semacam itu, dan bagaimana kalian memanfaatkannya dengan baik? Laba-laba mestinya sudah melakukan hal ini berjuta tahun lamanya ...”“Kamu benar, temanku,” laba-laba itu menyetujui. “Bodoh sekali jika berpikir bahwa kami punya kecerdasan yang memadai untuk mengatur semua ini. Adalah Allah, yang memiliki dan menciptakan segala sesuatu. Ialah yang memberiku keahlian untuk menggunakan teknik ini.”
“Jangan lupa, Rian,” laba-laba itu lantas mengingatkannya. “Bagi Allah, semua sangat mudah. Allah memiliki kekuasaan untuk menciptakan keragaman makhluk hidup dan tempat yang tak terbatas.”
“Terimakasih atas apa yang telah kaukatakan padaku,” kata Rian, anak laki-laki yang sangat sopan itu. “Sekarang aku memahami lebih baik lagi betapa berkuasanya Allah, dan betapa luarbiasanya pengetahuan yang dimilikiNya, setiap kali kulihat makhluk hidup yang diciptakanNya, juga rancanganNya nan sempurna.”
Labels:
Fabel
06.07
Suatu hari, paman Adit membawa keponakannyanya ke tempat yang sudah lama ingin dikunjunginya. Tempat ini adalah kebun binatang Ragunan, di mana Adit dapat secara langsung menyaksikan binatang-binatang yang selalu dibacanya di buku-buku dan majalah dan di televisi, dalam kehidupan nyata. Perjalanan itu panjang, namun menyenangkan. Di jalan, pamannya menjelaskan pada Faruk tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta, dan memberikan contoh-contoh dari Al Quran.
Akhirnya mereka tiba di kebun binatang. Mata Adit melebar saking takjubnya. Tak pernah ia melihat begitu banyak binatang yang berbeda, bersama-sama di sebuah tempat. Ketika mereka sampai di kawasan unggas, Adit meninggalkan pamannya dan pergi ke kandang bebek. “Unggas yang indah sekali,” katanya tentang salah satu di antara mereka. “Terima kasih,” sebuah suara menjawab. Adit memperhatikan sekelilingnya, namun tak seorangpun ada di sana. Kemudian, ia baru menyadari bahwa bebek yang tengah diamatinya itulah yang berbicara padanya.
“Halo,” kata bebek. “Terimakasih atas pujianmu. Selain punya penampilan yang tampan, aku juga memiliki ciri-ciri lain yang menarik. Tahukah kamu hal itu?”
Bebek itu bertengger di sebuah cabang yang nyaman dan memulainya. “Tahukah kamu kalau kami bisa terbang sangat cepat? Ketika terbang, bebek dapat bepergian dengan kecepatan lebih dari 30 mil (50 kilometer) per jam. Lebih dari itu, kami secara berkesinambungan mengganti arah untuk mencegah tertangkap oleh hewan pemangsa. Ketika kami perlu menyelam di bawah permukaan air, kami melakukannya sangat cepat hingga sulit menjadi sasaran para pemburu.”
“Ya, Adit,” balas sang bebek. “Biar kuberikan sebuah contoh untukmu. Teman kami, bebek es, biasa dijadikan sasaran cara berburu burung-burung camar yang menarik. Camar menyerang mereka terus-menerus dari udara, dan membuat bebek-bebek menyelam ke dalam air. Camar-camar itu terus melakukannya hingga bebek-bebek terpaksa muncul kembali ke permukaan, kelelahan dan tak berdaya. Kemudian, camar memburu bebek dengan menukik ke tengah-tengah kelompok bebek, dan mematuk-matuk kepala bebek. Namun, camar tak selalu dapat memenangkan pertarungan. Bebek-bebek es juga memiliki cara yang istimewa untuk melindungi diri mereka sendiri. Jika mereka melihat seekor camar di langit, dengan segera, bebek-bebek akan berkumpul bersama dalam kelompok besar. Ini berarti, burung camar tak dapat menangkap seekor bebekpun dari sekumpulan besar bebek yang menyelam, sampai akhirnya camar itu sendiri yang kelelahan dan menyerah.”
“Alangkah cerdasnya bebek-bebek itu!” Adit mengagumi. “Bagaimana mereka mampu melakukannya?”
Kisah Adit dan Bebek
Suatu hari, paman Adit membawa keponakannyanya ke tempat yang sudah lama ingin dikunjunginya. Tempat ini adalah kebun binatang Ragunan, di mana Adit dapat secara langsung menyaksikan binatang-binatang yang selalu dibacanya di buku-buku dan majalah dan di televisi, dalam kehidupan nyata. Perjalanan itu panjang, namun menyenangkan. Di jalan, pamannya menjelaskan pada Faruk tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta, dan memberikan contoh-contoh dari Al Quran.
Akhirnya mereka tiba di kebun binatang. Mata Adit melebar saking takjubnya. Tak pernah ia melihat begitu banyak binatang yang berbeda, bersama-sama di sebuah tempat. Ketika mereka sampai di kawasan unggas, Adit meninggalkan pamannya dan pergi ke kandang bebek. “Unggas yang indah sekali,” katanya tentang salah satu di antara mereka. “Terima kasih,” sebuah suara menjawab. Adit memperhatikan sekelilingnya, namun tak seorangpun ada di sana. Kemudian, ia baru menyadari bahwa bebek yang tengah diamatinya itulah yang berbicara padanya.
“Halo,” kata bebek. “Terimakasih atas pujianmu. Selain punya penampilan yang tampan, aku juga memiliki ciri-ciri lain yang menarik. Tahukah kamu hal itu?”Adit menjawab dalam kegairahan yang menyala. “Tidak, tapi aku betul-betul ingin kamu memberitahukan itu padaku.”
Bebek itu bertengger di sebuah cabang yang nyaman dan memulainya. “Tahukah kamu kalau kami bisa terbang sangat cepat? Ketika terbang, bebek dapat bepergian dengan kecepatan lebih dari 30 mil (50 kilometer) per jam. Lebih dari itu, kami secara berkesinambungan mengganti arah untuk mencegah tertangkap oleh hewan pemangsa. Ketika kami perlu menyelam di bawah permukaan air, kami melakukannya sangat cepat hingga sulit menjadi sasaran para pemburu.”Mata Adit terbuka lebar. “Untuk seekor burung, itu betul-betul terbang yang cepat. Maksudmu, musuh-musuhmu memaksamu terbang begitu cepat?”
“Ya, Adit,” balas sang bebek. “Biar kuberikan sebuah contoh untukmu. Teman kami, bebek es, biasa dijadikan sasaran cara berburu burung-burung camar yang menarik. Camar menyerang mereka terus-menerus dari udara, dan membuat bebek-bebek menyelam ke dalam air. Camar-camar itu terus melakukannya hingga bebek-bebek terpaksa muncul kembali ke permukaan, kelelahan dan tak berdaya. Kemudian, camar memburu bebek dengan menukik ke tengah-tengah kelompok bebek, dan mematuk-matuk kepala bebek. Namun, camar tak selalu dapat memenangkan pertarungan. Bebek-bebek es juga memiliki cara yang istimewa untuk melindungi diri mereka sendiri. Jika mereka melihat seekor camar di langit, dengan segera, bebek-bebek akan berkumpul bersama dalam kelompok besar. Ini berarti, burung camar tak dapat menangkap seekor bebekpun dari sekumpulan besar bebek yang menyelam, sampai akhirnya camar itu sendiri yang kelelahan dan menyerah.”
“Alangkah cerdasnya bebek-bebek itu!” Adit mengagumi. “Bagaimana mereka mampu melakukannya?”“Jawabannya jelas, Adit,” seru si bebek. “Allahlah yang menciptakan bebek dan seluruh makhluk hidup lainnya, dan Ialah yang mengajari mereka cara melindungi diri sendiri.”
“Terima kasih, bebek yang baik,” kata Adit. “Kamu telah memberikan aku beberapa pengetahuan yang bermanfaat hari ini, dan mengingatkan aku pada tanda-tanda Tuhan kami. Sampai berjumpa lagi,” katanya, sambil melangkah kembali untuk menemukan pamannya.
Maka, apakah Allah yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan apa-apa? Maka, mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (Surat An-Nahl: 17).
Labels:
Fabel
12.19
Ketika Anthar belajar dari sebuah buku cerita yang dibacanya, bahwa kanguru membawa bayi-bayi mereka dalam kantung-kantung istimewa di perutnya, dengan kaget ia bertanya pada dirinya sendiri, “Apa binatang-binatang ini memang betul-betul punya kantung ?” Kanguru di buku itu tiba-tiba mulai melompat-lompat mengelilingi halaman, dan menjawab, “Pantas saja kamu terkejut, Anthar. Tapi, ya, kami kanguru memang punya kantung di perut kami, dan di sinilah kami memberi makan, melindungi, dan membesarkan bayi-bayi kami.”
“Itu sangat menarik,” Antar merenung. “Bagaimana kamu memberinya makan di sana?”
Ibu kanguru melanjutkan penjelasannya. “Susu yang memberi makan bayi yang baru lahir lebih hangat daripada jenis lainnya. Gizi yang terkandung di dalamnya juga berbeda. Lalu, bagaimana menurutmu kami, Ibu kanguru, memanaskan susu dalam puting-puting kami? Jangan lupa, Antar sayang, sesungguhnya, bukan Ibu kanguru yang melakukan semua ini. Kami tidak pernah tahu perbedaan-perbedaan dalam susu di puting-puting kami. Tidaklah mungkin bagi kami memperhitungkan suhu susu. Kami juga tidak tahu bahwa setiap jenis susu punya ciri-ciri yang berbeda, dan mengandung makanan macam apa. Kami hanya tinggal menjalankan cara yang diinspirasikan Allah kepada kami. Allah, yang menciptakan kami, memikirkan kebutuhan-kebutuhan bayi kami. Tuhan kami, dengan belas kasih dan kemurahan yang tak terbatas, telah memberi susu dari jenis yang paling sesuai bagi bayi-bayi kami, dan meletakkannya di tempat terbaik untuk mereka, yaitu dalam kantung Ibu-ibu mereka.”
Kisah Anthar dan Kangguru
Ketika Anthar belajar dari sebuah buku cerita yang dibacanya, bahwa kanguru membawa bayi-bayi mereka dalam kantung-kantung istimewa di perutnya, dengan kaget ia bertanya pada dirinya sendiri, “Apa binatang-binatang ini memang betul-betul punya kantung ?” Kanguru di buku itu tiba-tiba mulai melompat-lompat mengelilingi halaman, dan menjawab, “Pantas saja kamu terkejut, Anthar. Tapi, ya, kami kanguru memang punya kantung di perut kami, dan di sinilah kami memberi makan, melindungi, dan membesarkan bayi-bayi kami.”Anthar memperhatikan dan melihat seekor bayi kanguru yang lucu menyodokkan kepalanya dari kantung Ibunya di dalam gambar.
“Bagaimana bayimu bisa masuk ke dalam kantung?” tanyanya pada Ibu kanguru, yang menjawab.
“Ketika seekor bayi kanguru lahir, panjangnya cuma satu sentimeter. Bayi kecil itu, yang masih belum berkembang, mencapai kantung setelah menempuh perjalanan selama 3 menit.”
“Itu sangat menarik,” Antar merenung. “Bagaimana kamu memberinya makan di sana?”Ibu kanguru menjelaskan dengan sabar. “Ada empat puting susu yang berbeda di perutku. Di salah satu puting ini, ada susu hangat yang siap untuk diminum bayi kanguru. Di tiga puting lainnya, susu dirancang bukan untuk memberi makan bayi yang baru lahir, namun untuk bayi-bayi yang sedikit lebih besar lagi. Setelah beberapa minggu, bayi itu akan meninggalkan puting yang memberinya minum pertama kali, dan mulai minum dari puting lain sesuai dengan usianya. Ketika bayi itu tumbuh lebih besar lagi, ia akan berpindah ke puting selanjutnya.”
“Sulit dipercaya!” seru Anthar yang sangat bergairah. “Bagaimana seekor bayi kanguru yang hanya sepanjang satu sentimeter mengetahui puting mana yang harus dipilihnya? Dan bagaimana engkau, Ibu kanguru, bisa menghasilkan empat jenis susu yang berbeda dalam setiap puting?”
Ibu kanguru melanjutkan penjelasannya. “Susu yang memberi makan bayi yang baru lahir lebih hangat daripada jenis lainnya. Gizi yang terkandung di dalamnya juga berbeda. Lalu, bagaimana menurutmu kami, Ibu kanguru, memanaskan susu dalam puting-puting kami? Jangan lupa, Antar sayang, sesungguhnya, bukan Ibu kanguru yang melakukan semua ini. Kami tidak pernah tahu perbedaan-perbedaan dalam susu di puting-puting kami. Tidaklah mungkin bagi kami memperhitungkan suhu susu. Kami juga tidak tahu bahwa setiap jenis susu punya ciri-ciri yang berbeda, dan mengandung makanan macam apa. Kami hanya tinggal menjalankan cara yang diinspirasikan Allah kepada kami. Allah, yang menciptakan kami, memikirkan kebutuhan-kebutuhan bayi kami. Tuhan kami, dengan belas kasih dan kemurahan yang tak terbatas, telah memberi susu dari jenis yang paling sesuai bagi bayi-bayi kami, dan meletakkannya di tempat terbaik untuk mereka, yaitu dalam kantung Ibu-ibu mereka.”Katakanlah: “Kalau sekiranya lautan menjadi tinda untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula). (Surat Al Kahfi: 109)
Labels:
Fabel
12.03
Saudara perempuan Farhan ingin berlatih mengendarai kuda. Di akhir pekan, mereka sekeluarga pergi ke sekolah berkuda. Ketika saudara perempuannya, Ibu dan Ayahnya berbincang-bincang dengan pelatih berkuda, Farhan pergi melihat-lihat seekor kuda yang tengah merumput.



“Kamu benar sekali,” kuda itu menyetujui. “Allah menciptakan setiap makhluk hidup sesuai dengan lingkungan tempat hidupnya. Inilah salah satu bukti penciptaanNya yang luarbiasa. Semua makhluk hidup di permukaan bumi membutuhkanNya.”
Farhan memperhatikan teman barunya lebih cermat lagi. “Dengan kaki-kaki panjang itu, aku tak heran kalau kamu bisa bepergian jauh. Bisakah kamu juga berlari cepat?”
Kisah Farhan dan Kuda
Saudara perempuan Farhan ingin berlatih mengendarai kuda. Di akhir pekan, mereka sekeluarga pergi ke sekolah berkuda. Ketika saudara perempuannya, Ibu dan Ayahnya berbincang-bincang dengan pelatih berkuda, Farhan pergi melihat-lihat seekor kuda yang tengah merumput.“Halo!” kata Farhan. “Rumput yang kamu makan kelihatannya sangat kotor dan berdebu. Apa itu tidak merusak gigimu?”
Kuda itu mengangkat kepalanya dan meringkik riang. “Tidak, teman kecilku. Gigi kami membantu memotong-motongnya. Allah menciptakan gigi yang sangat panjang buat kami. Gigi-gigi ini memiliki akar yang tertanam dalam rahang-rahang kami. Bagian akar gigi kami lebih panjang daripada akar gigimu. Ketika gigi kami patah, bagian di dalam tulang akan keluar. Setiap gigi dapat patah 1 sampai 2 inci (2.5 hingga 5 cm) tanpa kami kehilangan kemampuan untuk makan.”
Farhan menimbang sejenak. “Jadi berkat ciri tersebut yang diberikan Allah padamu, kamu terlindung dari kehilangan gigi dalam waktu singkat dan terhindar dari kelaparan.”
“Kamu benar sekali,” kuda itu menyetujui. “Allah menciptakan setiap makhluk hidup sesuai dengan lingkungan tempat hidupnya. Inilah salah satu bukti penciptaanNya yang luarbiasa. Semua makhluk hidup di permukaan bumi membutuhkanNya.”Farhan mengingat film-film yang pernah dilihatnya tentang kuda. “Kalau aku menaiki punggungmu, kamu bisa membawaku bermil-mil jauhnya, ya?”
“Iya. Tidak ada binatang lain yang bisa membantu manusia seperti kami. Saat ini, tentu saja, ada banyak jalanan dan kendaraan bergerak di sana. Sesungguhnya, baru pada abad terakhir saja mobil dan bentuk transportasi lain mulai melayani orang. Ketika kakek-kakek buyutmu lahir, orang tidak tahu kalau kelak akan ada benda seperti mobil. Ketika itu, membawa orang adalah pekerjaan binatang, terutama kami, para kuda.”
Farhan memperhatikan teman barunya lebih cermat lagi. “Dengan kaki-kaki panjang itu, aku tak heran kalau kamu bisa bepergian jauh. Bisakah kamu juga berlari cepat?”Kuda itu perlahan mengangkat sebelah kaki depannya. “Allah menciptakan kaki-kakiku tidak hanya agar aku bisa membawa beban-beban berat, tapi juga agar aku bisa lari cepat pada saat yang sama. Kami tidak memiliki tulang selangka seperti binatang-binatang lain. Ini berarti kami dapat melangkah lebih lebar.”
Farhan memikirkannya. “Jadi, Allah menciptakan kamu agar mudah membawa beban-beban berat dan mampu berlari cepat.”
“Ya, Farhan,” teman barunya setuju. “Allah menciptakan kami dengan ciri-ciri ini sehingga manusia bisa memanfaatkan kami.”
Farhan meringis kembali. “Aku yakin, apa yang telah kupelajari darimu jauh lebih menarik untuk saudara perempuanku daripada belajar berkuda, saat kuceritakan semua ini padanya!”
“Selamat jalan, teman kecil,” sang kuda berucap dengan mulut dipenuhi jerami nan lezat.
Ialah Pencipta semua spesies dan emmberimu perahu serta ternak untuk kautunggangi (Surat az-Zukhruf:12)
Labels:
Fabel
12.01
Tariq sedang bermain di rumah teman sekolahnya, Kashif. Ketika Ibu Kashif memanggil anaknya ke bawah untuk suatu hal, Tarik ditinggal sendiri di kamar tidur. Saat itulah anjing Kashif masuk ke kamar. Anjing itu sangat memikat, dan seakan-akan bertanya, “Tidakkah kamu ingin bermain denganku?”
Tarik membeku saking takjubnya. Anjing itu bicara! Ini merupakan kesempatan yang tak boleh dilewatkan. Ia mulai bertanya tentang hal-hal yang selalu dibayangkannya tentang anjing.
Tariq mengangguk: “Kamu suka berlari, melompat, dan bermain seperti aku, iya kan? Kok kamu nggak berkeringat?” ia berpikir.
“Kamu benar,” anjing itu menyetujui. “Kami memiliki indera penciuman yang sangat kuat. Indera penciuman yang berpusat di otak kami itu 40 kali lebih berkembang dibandingkan kepunyaan manusia.”.
Kisah Tariq dan Anjing
Tariq sedang bermain di rumah teman sekolahnya, Kashif. Ketika Ibu Kashif memanggil anaknya ke bawah untuk suatu hal, Tarik ditinggal sendiri di kamar tidur. Saat itulah anjing Kashif masuk ke kamar. Anjing itu sangat memikat, dan seakan-akan bertanya, “Tidakkah kamu ingin bermain denganku?”“Hei, ayo bermain,” kata Tariq sambil melompat.
“Asyik, aku senang sekali!” kata anjing itu, sambil mengibaskan ekornya dengan antusias.
Tarik membeku saking takjubnya. Anjing itu bicara! Ini merupakan kesempatan yang tak boleh dilewatkan. Ia mulai bertanya tentang hal-hal yang selalu dibayangkannya tentang anjing.“Aku selalu ingin tahu,” ia memulai, “Bagaimana kalian mengunyah tulang-tulang keras yang kami berikan pada kalian untuk dimakan?”
Anjing itu tersenyum, memperlihatkan sebarisan gigi yang putih, tajam. “Allah, yang telah memberikan semua makhluk hidup ciri-ciri individual mereka, telah memberikan, kami, para anjing, kemampuan fisik yang berbeda dari binatang-binatang lain. Misalnya, kami punya lebih banyak gigi daripada kalian. Jumlahnya 42, sehinggga kami dapat mengunyah makanan kami, terutama tulang, dengan mudah.”
Tariq mengangguk: “Kamu suka berlari, melompat, dan bermain seperti aku, iya kan? Kok kamu nggak berkeringat?” ia berpikir.Anjing Kashif mengangguk setuju. “Kami tidak berkeringat seperti manusia untuk mengendalikan panas tubuh kami, karena kami tidak punya pori-pori kulit. Kami memiliki sistem pernapasan yang mengontrol suhu kami. Bulu-bulu mencegah panas dari luar mencapai kulit kami. Tentu saja, ketika suhu meningkat, panas tubuh kami juga meningkat. Ketika badan kami jadi terlalu panas, kami akan melepaskan kelebihan panas dengan menjulurkan lidah dan bernapas cepat-cepat, sehingga bahkan di hari-hari yang panas kami tidak berkeringat, biarpun bulu kami tebal.”
“Allah telah memberikan kami sistem yang bagus. Kalau manusia mengeluarkan keringat setelah berolahraga selama setengah jam, kami bisa berlari tanpa henti berjam-jam tanpa mengeluarkan keringat sama sekali. Mulai sekarang, kamu akan memahami. Ketika kaulihat anjing-anjing dengan lidah terjulur keluar saat cuaca panas, tidak perlu merasa kasihan pada mereka. Tentu saja kami, anjing-anjing, tidak membuat sistem ini untuk diri kami sendiri. Inilah salah satu bukti kekuatan kreatif yang luarbiasa dari Allah, yang telah menciptakan apapun dalam bentuk asli sepenuhnya.”
“Aku yakin indera penciumanmu berkembang begitu baik,” kata Tarik sambil mengelus-elus hidung anjing.
“Kamu benar,” anjing itu menyetujui. “Kami memiliki indera penciuman yang sangat kuat. Indera penciuman yang berpusat di otak kami itu 40 kali lebih berkembang dibandingkan kepunyaan manusia.”.“Jadi ketika anjing polisi mencium sesuatu sekali saja, anjing-anjing itu dapat pergi menemukan pemiliknya!” Tarik menegaskan.
“Lagi-lagi benar. Anjing-anjing yang biasa kamu lihat setiap hari adalah bukti-bukti penciptaan Allah, persis seperti semua makhluk hidup lainnya. Camkan itu di benakmu, dan jangan lupa untuk mengingat Allah dengan penuh syukur.”
“Terimakasih banyak,” kata Tarik. “Aku tak akan lupa. Dan akan kukatakan pada semua temanku apa yang telah kauberitahukan padaku tentang pemberian Allah padamu. Aku juga akan meminta mereka untuk bersyukur padaNya.”
Tepat saat itu Kashif masuk kembali ke dalam kamar, dan mereka semua mulai berkejaran dan bermain bersama-sama.
Labels:
Fabel
12.00
Suatu hari, dalam perjalanan sepulang sekolah, Amir meninggalkan teman-temannya, dan menjelajah di antara pepohonan. Ketika bersandar di sebatang pohon, dan beristirahat, sebuah suara datang dari balik batang pohon yang tergeletak di tanah.
“Itu betul-betul tak bisa dipercaya!” seru Amir. “Apa lagi yang istimewa dari dirimu?”
“Mulai sekarang,” kata Amir, “aku akan memperhatikan hal-hal di sekelilingku lebih teliti lagi. Aku tak akan pernah lupa berdoa pada Tuhan yang hebat dan berkuasa, ketika kulihat bukti-bukti nyata kehadiranNya di alam. Terima kasih.”
Kisah Amir dan Bunglon
Suatu hari, dalam perjalanan sepulang sekolah, Amir meninggalkan teman-temannya, dan menjelajah di antara pepohonan. Ketika bersandar di sebatang pohon, dan beristirahat, sebuah suara datang dari balik batang pohon yang tergeletak di tanah.“Salam, Amir,” kata suara itu. “Kamu lelah, ya?”
Amir tak bisa mempercayai telinganya. Ketika memperhatikan ke sekeliling batang kayu itu dengan teliti, ia melihat seekor makhluk yang begitu mirip warnanya dengan batang pohon itu, sampai-sampai Amir kesulitan membedakannya.
“Kamu siapa?” tanyanya. “Aku betul-betul sulit melihatmu—warnamu dan warna batang kayu tempatmu duduk itu betul-betul sama!”
“Aku seekor bunglon,” kata makhluk itu, yang bentuknya menyerupai kadal. “Aku mengubah warnaku sesuai dengan lingkunganku untuk melindungi diriku dari bahaya.”
“Bagaimana kalian melakukan hal yang luarbiasa seperti itu?”

“Mari kujelaskan,” kata teman barunya. “Aku punya zat pewarna istimewa yang disebut ‘kromatofor’ di kulitku. Zat ini memungkinkan kami mengubah warna, menyesuaikannya dengan sekeliling kami. Perubahan warna ini terjadi melalui pendistribusian dan pengumpulan beragam zat dan pigmen dalam sistem sarafku. Jadi, biarpun aku berpindah sangat pelan, aku dapat hidup tak terlihat, dan aman, di manapun aku berada. Tentu saja, kemampuan ini diberikan padaku oleh Tuhan kita Yang Maha Kuasa, Yang menyediakan kita dengan apapun yang kita butuhkan.”
Amir tidak begitu yakin bahwa ia betul-betul memahami. “Dapatkah engkau beritahukan padaku sedikit lagi tentang perubahan warna?”
Bunglon itu menarik napas panjang dan mengangguk. “Ketika aku duduk di sebuah cabang berdaun di siang hari, aku berubah menjadi hijau dengan noda-noda hitam cokelat, seperti bayang-bayang cabang-cabang di sekitarku. Ketika gelap, aku betul-betul menjadi hitam. Aku dapat mengerjakan semua perubahan warna ini hanya dalam waktu 15 menit. Ketika aku marah, aku mengembangkan titik-titik oranye gelap dan noda-noda merah tua sebagai peringatan bagi binatang-binatang lain.”
“Itu betul-betul tak bisa dipercaya!” seru Amir. “Apa lagi yang istimewa dari dirimu?”Temannya tersenyum gembira. “Mataku masing-masing bisa bergerak bebas. Aku bisa melihat ke atas dan ke bawah sekaligus. Tentu saja, aku tak pernah mendapatkan ciri-ciri ini jika Allah tidak menghendakinya. Allah menciptakan aku dan memberiku apapun yang kuperlukan untuk bertahan hidup.”
Amir memperhatikan lebih dekat lagi. “Kelihatannya cukup sulit mengeluarkan matamu.”
“Karena itu, supaya mataku tidak menarik perhatian musuh-musuh, Allah menutupnya sepenuhnya dengan sisik-sisik, hingga seakan-akan mereka tampak seperti bagian kepalaku yang lain. Seperti yang bisa kamu lihat, ketika Allah menciptakan aku, Ia merancangku dalam cara yang paling memungkinkan untuk menghadapi apapun yang mungkin terjadi padaku.”
“Mulai sekarang,” kata Amir, “aku akan memperhatikan hal-hal di sekelilingku lebih teliti lagi. Aku tak akan pernah lupa berdoa pada Tuhan yang hebat dan berkuasa, ketika kulihat bukti-bukti nyata kehadiranNya di alam. Terima kasih.”Ialah Allah, Tuhanmu. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; Pencipta segala sesuatu. Maka sembahkan Ia. Ia adalah pemelihara segala sesuatu. Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penghlihatan itu. Ialah Allah, Yang Maha Menembus, Maha Menetahui. (Surat Al An’aam : 102-103).Hai manusia, kamulah orang miskin yang membutuhkan Allah; sementara Allah adalah Yang Maha Kaya, lagi Maha Terpuji. (Surat Faathir: 15)
Labels:
Fabel
11.25
Siang itu panas sekali. Matahari bersinar garang. Tapi hal itu tidak terlalu dirasakan oleh Kancil. Dia sedang tidur nyenyak di bawah sebatang pohon yang rindang.
Tiba-tiba saja mimpi indahnya terputus. "Tolong! Tolong! " terdengar teriakan dan jeritan berulang-ulang. Lalu terdengar suara derap kaki binatang yang sedang berlari-lari.
"Ada apa, sih?" kata Kancil. Matanya berkejap-kejap, terasa berat untuk dibuka karena masih mengantuk.
Di kejauhan tampak segerombolan binatang berlari-lari menuju ke arahnya. "Kebakaran! Kebakaran! " teriak Kambing. " Ayo lari, Cil! Ada kebakaran di hutan! "
Memang benar. Asap tebal membubung tinggi ke angkasa. Kancil ketakutan melihatnya. Dia langsung bangkit dan berlari mengikuti teman-temannya.
Kisah Si Kancil Pencuri Ketimun
Tiba-tiba saja mimpi indahnya terputus. "Tolong! Tolong! " terdengar teriakan dan jeritan berulang-ulang. Lalu terdengar suara derap kaki binatang yang sedang berlari-lari.
"Ada apa, sih?" kata Kancil. Matanya berkejap-kejap, terasa berat untuk dibuka karena masih mengantuk.
Di kejauhan tampak segerombolan binatang berlari-lari menuju ke arahnya. "Kebakaran! Kebakaran! " teriak Kambing. " Ayo lari, Cil! Ada kebakaran di hutan! "
Memang benar. Asap tebal membubung tinggi ke angkasa. Kancil ketakutan melihatnya. Dia langsung bangkit dan berlari mengikuti teman-temannya.
Kancil terus berlari. Wah, cepat juga larinya. Ya, walaupun Kancil bertubuh kecil, tapi dia dapat berlari cepat. Tanpa terasa, Kancil telah berlari jauh, meninggalkan teman-temannya.
"Aduh, napasku habis rasanya," Kancil berhenti dengan napas terengah-engah, lalu duduk beristirahat. "Lho, di mana binatang-binatang lainnya?" Walaupun Kancil senang karena lolos dari bahaya, tiba-tiba ia merasa takut. "Wah, aku berada di mana sekarang? Sepertinya belum pernah ke sini."
Kancil berjalan sambil mengamati daerah sekitarnya. "Waduh, aku tersesat. Sendirian lagi. Bagaimana ini?'7 Kancil semakin takut dan bingung. "Tuhan, tolonglah aku."
"Aduh, napasku habis rasanya," Kancil berhenti dengan napas terengah-engah, lalu duduk beristirahat. "Lho, di mana binatang-binatang lainnya?" Walaupun Kancil senang karena lolos dari bahaya, tiba-tiba ia merasa takut. "Wah, aku berada di mana sekarang? Sepertinya belum pernah ke sini."
Kancil berjalan sambil mengamati daerah sekitarnya. "Waduh, aku tersesat. Sendirian lagi. Bagaimana ini?'7 Kancil semakin takut dan bingung. "Tuhan, tolonglah aku."
Kancil terus berjalan menjelajahi hutan yang belum pernah dilaluinya. Tanpa terasa, dia tiba di pinggir hutan. Ia melihat sebuah ladang milik Pak Tani.
"Ladang sayur dan buah-buahan? Oh, syukurlah. Terima kasih, Tuhan," mata Kancil membelalak. Ladang itu penuh dengan sayur dan buah-buahan yang siap dipanen. Wow, asyik sekali!
"Kebetulan nih, aku haus dan lapar sekali," kata Kancil sambil menelan air liurnya. "Tenggorokanku juga terasa kering. Dan perutku keroncongan minta diisi. Makan dulu, ah."
"Ladang sayur dan buah-buahan? Oh, syukurlah. Terima kasih, Tuhan," mata Kancil membelalak. Ladang itu penuh dengan sayur dan buah-buahan yang siap dipanen. Wow, asyik sekali!
"Kebetulan nih, aku haus dan lapar sekali," kata Kancil sambil menelan air liurnya. "Tenggorokanku juga terasa kering. Dan perutku keroncongan minta diisi. Makan dulu, ah."
Dengan tanpa dosa, Kancil melahap sayur dan buahbuahan yang ada di ladang. Wah, kasihan Pak Tani. Dia pasti marah kalau melihat kejadian ini. Si Kancil nakal sekali, ya?
"Hmm, sedap sekali," kata Kancil sambil mengusap-usap perutnya yang kekenyangan. "Andai setiap hari pesta seperti ini, pasti asyik."
Setelah puas, Kancil merebahkan dirinya di bawah sebatang pohon yang rindang. Semilir angin yang bertiup, membuatnya mengantuk. "Oahem, aku jadi kepingin tidur lagi," kata Kancil sambil menguap.
Akhirnya binatang yang nakal itu tertidur, melanjutkan tidur siangnya yang terganggu gara-gara kebakaran di hutan tadi. Wah, tidurnya begitu pulas, sampai terdengar suara dengkurannya. Krr... krr... krrr...
"Hmm, sedap sekali," kata Kancil sambil mengusap-usap perutnya yang kekenyangan. "Andai setiap hari pesta seperti ini, pasti asyik."
Setelah puas, Kancil merebahkan dirinya di bawah sebatang pohon yang rindang. Semilir angin yang bertiup, membuatnya mengantuk. "Oahem, aku jadi kepingin tidur lagi," kata Kancil sambil menguap.
Akhirnya binatang yang nakal itu tertidur, melanjutkan tidur siangnya yang terganggu gara-gara kebakaran di hutan tadi. Wah, tidurnya begitu pulas, sampai terdengar suara dengkurannya. Krr... krr... krrr...
Ketika bangun pada keesokan harinya, Kancil merasa lapar lagi. "Wah, pesta berlanjut lagi, nih," kata Kancil pada dirinya sendiri. "Kali ini aku pilih-pilih dulu, ah. Siapa tahu ada buah timun kesukaanku."
Maka Kancil berjalan-jalan mengitari ladang Pak Tani yang luas itu. "Wow, itu dia yang kucari! " seru Kancil gembira. "Hmm, timunnya kelihatan begitu segar. Besarbesar lagi! Wah, pasti sedap nih."
Kancil langsung makan buah timun sampai kenyang. "Wow, sedap sekali sarapan timun," kata Kancil sambil tersenyum puas.
Hari sudah agak siang. Lalu Kancil kembali ke bawah pohon rindang untuk beristirahat.
Maka Kancil berjalan-jalan mengitari ladang Pak Tani yang luas itu. "Wow, itu dia yang kucari! " seru Kancil gembira. "Hmm, timunnya kelihatan begitu segar. Besarbesar lagi! Wah, pasti sedap nih."
Kancil langsung makan buah timun sampai kenyang. "Wow, sedap sekali sarapan timun," kata Kancil sambil tersenyum puas.
Hari sudah agak siang. Lalu Kancil kembali ke bawah pohon rindang untuk beristirahat.
Pak Tani terkejut sekali ketika melihat ladangnya. "Wah, ladang timunku kok jadi berantakan-begini," kata Pak Tani geram. "Perbuatan siapa, ya? Pasti ada hama baru yang ganas. Atau mungkinkah ada bocah nakal atau binatang lapar yang mencuri timunku?"
Ladang timun itu memang benar-benar berantakan. Banyak pohon timun yang rusak karena terinjak-injak. Dan banyak pula serpihan buah timun yang berserakan di tanah. Hm, awas, ya, kalau sampai tertangkap! " omel Pak Tani sambil mengibas-ngibaskan sabitnya. "Panen timunku jadi berantakan."
Maka seharian Pak Tani sibuk membenahi kembali ladangnya yang berantakan.
Ladang timun itu memang benar-benar berantakan. Banyak pohon timun yang rusak karena terinjak-injak. Dan banyak pula serpihan buah timun yang berserakan di tanah. Hm, awas, ya, kalau sampai tertangkap! " omel Pak Tani sambil mengibas-ngibaskan sabitnya. "Panen timunku jadi berantakan."
Maka seharian Pak Tani sibuk membenahi kembali ladangnya yang berantakan.
Dari tempat istirahatnya, Kancil terus memperhatikan Pak Tani itu. "Hmm, dia pasti yang bernama Pak Tani," kata Kancil pada dirinya sendiri. "Kumisnya boleh juga. Tebal,' hitam, dan melengkung ke atas. Lucu sekali. Hi... hi... hi....
Sebelumnya Kancil memang belum pernah bertemu dengan manusia. Tapi dia sering mendengar cerita tentang Pak Tani dari teman-temannya. "Aduh, Pak Tani kok lama ya," ujar Kancil. Ya, dia telah menunggu lama sekali. Siang itu Kancil ingin makan timun lagi. Rupanya dia ketagihan makan buah timun yang segar itu.
Sore harinya, Pak Tani pulang sambil memanggul keranjang berisi timun di bahunya. Dia pulang sambil mengomel, karena hasil panennya jadi berkurang. Dan waktunya habis untuk menata kembali ladangnya yang berantakan.
"Ah, akhirnya tiba juga waktu yang kutunggu-tunggu," Kancil bangkit dan berjalan ke ladang. Binatang yang nakal itu kembali berpesta makan timun Pak Tani.
Sebelumnya Kancil memang belum pernah bertemu dengan manusia. Tapi dia sering mendengar cerita tentang Pak Tani dari teman-temannya. "Aduh, Pak Tani kok lama ya," ujar Kancil. Ya, dia telah menunggu lama sekali. Siang itu Kancil ingin makan timun lagi. Rupanya dia ketagihan makan buah timun yang segar itu.
Sore harinya, Pak Tani pulang sambil memanggul keranjang berisi timun di bahunya. Dia pulang sambil mengomel, karena hasil panennya jadi berkurang. Dan waktunya habis untuk menata kembali ladangnya yang berantakan.
"Ah, akhirnya tiba juga waktu yang kutunggu-tunggu," Kancil bangkit dan berjalan ke ladang. Binatang yang nakal itu kembali berpesta makan timun Pak Tani.
Keesokan harinya, Pak Tani geram dan marah-marah melihat ladangnya berantakan lagi. "Benar-benar keterlaluan! " seru Pak Tani sambil mengepalkan tangannya. "Ternyata tanaman lainnya juga rusak dan dicuri."
Pak Tani berlutut di tanah untuk mengetahui jejak si pencuri. "Hmm, pencurinya pasti binatang," kata Pak Tani. "Jejak kaki manusia tidak begini bentuknya."
Pemilik ladang yang malang itu bertekad untuk menangkap si pencuri. "Aku harus membuat perangkap untuk menangkapnya! "
Maka Pak Tani segera meninggalkan ladang. Setiba di rumahnya, dia membuat sebuah boneka yang menyerupai manusia. Lalu dia melumuri orang-orangan ladang itu dengan getah nangka yang lengket!
Pak Tani berlutut di tanah untuk mengetahui jejak si pencuri. "Hmm, pencurinya pasti binatang," kata Pak Tani. "Jejak kaki manusia tidak begini bentuknya."
Pemilik ladang yang malang itu bertekad untuk menangkap si pencuri. "Aku harus membuat perangkap untuk menangkapnya! "
Maka Pak Tani segera meninggalkan ladang. Setiba di rumahnya, dia membuat sebuah boneka yang menyerupai manusia. Lalu dia melumuri orang-orangan ladang itu dengan getah nangka yang lengket!
Pak Tani kembali lagi ke ladang. Orang-orangan itu dipasangnya di tengah ladang timun. Bentuknya persis seperti manusia yang sedang berjaga-jaga. Pakaiannya yang kedodoran berkibar-kibar tertiup angin.
Sementara kepalanya memakai caping, seperti milik Pak Tani.
"Wah, sepertinya Pak Tani tidak sendiri lagi," ucap Kancil, yang melihat dari kejauhan. "Ia datang bersama temannya. Tapi mengapa temannya diam saja, dan Pak Tani meninggalkannya sendirian di tengah ladang?"
Lama sekali Kancil menunggu kepergian teman Pak Tani. Akhirnya dia tak tahan. "Ah, lebih baik aku ke sana," kata Kancil memutuskan. "Sekalian minta maaf karena telah mencuri timun Pak Tani. Siapa tahu aku malah diberinya timun gratis."
Sementara kepalanya memakai caping, seperti milik Pak Tani.
"Wah, sepertinya Pak Tani tidak sendiri lagi," ucap Kancil, yang melihat dari kejauhan. "Ia datang bersama temannya. Tapi mengapa temannya diam saja, dan Pak Tani meninggalkannya sendirian di tengah ladang?"
Lama sekali Kancil menunggu kepergian teman Pak Tani. Akhirnya dia tak tahan. "Ah, lebih baik aku ke sana," kata Kancil memutuskan. "Sekalian minta maaf karena telah mencuri timun Pak Tani. Siapa tahu aku malah diberinya timun gratis."
"Maafkan saya, Pak," sesal Kancil di depan orangorangan ladang itu. "Sayalah yang telah mencuri timun Pak Tani. Perut saya lapar sekali. Bapak tidak marah, kan?"
Tentu saj,a orang-orangan ladang itu tidak menjawab. Berkali-kali Kancil meminta maaf. Tapi orang-orangan itu tetap diam. Wajahnya tersenyum, tampak seperti mengejek Kancil.
"Huh, sombong sekali!" seru Kancil marah. "Aku minta maaf kok diam saja. Malah tersenyum mengejek. Memangnya lucu apa?" gerutunya.
Akhirnya Kancil tak tahan lagi. Ditinjunya orangorangan ladang itu dengan tangan kanan. Buuuk! Lho, kok tangannya tidak bisa ditarik? Ditinjunya lagi dengan tangan kiri. Buuuk! Wah, kini kedua tangannya melekat erat di tubuh boneka itu.
" Lepaskan tanganku! " teriak Kancil j engkel. " Kalau tidak, kutendang kau! " Buuuk! Kini kaki si Kancil malah melekat juga di tubuh orang-orangan itu. "Aduh, bagaimana ini?"
Tentu saj,a orang-orangan ladang itu tidak menjawab. Berkali-kali Kancil meminta maaf. Tapi orang-orangan itu tetap diam. Wajahnya tersenyum, tampak seperti mengejek Kancil.
"Huh, sombong sekali!" seru Kancil marah. "Aku minta maaf kok diam saja. Malah tersenyum mengejek. Memangnya lucu apa?" gerutunya.
Akhirnya Kancil tak tahan lagi. Ditinjunya orangorangan ladang itu dengan tangan kanan. Buuuk! Lho, kok tangannya tidak bisa ditarik? Ditinjunya lagi dengan tangan kiri. Buuuk! Wah, kini kedua tangannya melekat erat di tubuh boneka itu.
" Lepaskan tanganku! " teriak Kancil j engkel. " Kalau tidak, kutendang kau! " Buuuk! Kini kaki si Kancil malah melekat juga di tubuh orang-orangan itu. "Aduh, bagaimana ini?"
Sore harinya, Pak Tani kembali ke ladang. "Nah, ini dia pencurinya! " Pak Tani senang melihat jebakannya berhasil. "Rupanya kau yang telah merusak ladang dan mencuri
timunku." Pak Tani tertawa ketika melepaskan Kancil. "Katanya kancil binatang yang cerdik," ejek Pak Tani. "Tapi kok tertipu oleh orang-orangan ladang. Ha... ha... ha.... "
Kancil pasrah saja ketika dibawa pulang ke rumah Pak Tani. Dia dikurung di dalam kandang ayam. Tapi Kancil terkejut ketika Pak Tani menyuruh istrinya menyiapkan bumbu sate.
" Aku harus segera keluar malam ini j uga I " tekad Kancil. Kalau tidak, tamatlah riwayatku. "
Malam harinya, ketika seisi rumah sudah tidur, Kancil memanggil-manggil Anjing, si penjaga rumah. "Ssst... Anjing, kemarilah," bisik Kancil. "Perkenalkan, aku Kancil. Binatang piaraan baru Pak Tani. Tahukah kau? Besok aku akan diajak Pak Tani menghadiri pesta di rumah Pak Lurah. Asyik, ya?"
Kancil pasrah saja ketika dibawa pulang ke rumah Pak Tani. Dia dikurung di dalam kandang ayam. Tapi Kancil terkejut ketika Pak Tani menyuruh istrinya menyiapkan bumbu sate.
" Aku harus segera keluar malam ini j uga I " tekad Kancil. Kalau tidak, tamatlah riwayatku. "
Malam harinya, ketika seisi rumah sudah tidur, Kancil memanggil-manggil Anjing, si penjaga rumah. "Ssst... Anjing, kemarilah," bisik Kancil. "Perkenalkan, aku Kancil. Binatang piaraan baru Pak Tani. Tahukah kau? Besok aku akan diajak Pak Tani menghadiri pesta di rumah Pak Lurah. Asyik, ya?"
Anjing terkejut mendengarnya. "Apa? Aku tak percaya! Aku yang sudah lama ikut Pak Tani saja tidak pernah diajak pergi. Eh, malah kau yang diajak."
Kancil tersenyum penuh arti. "Yah, terserah kalau kau tidak percaya. Lihat saja besok! Aku tidak bohong! "
Rupanya Anjing terpengaruh oleh kata-kata si Kancil. Dia meminta agar Kancil membujuk Pak Tani untuk mengajakn-ya pergi ke pesta.
"Oke, aku akan berusaha membujuk Pak Tani," janji Kancil. "Tapi malam ini kau harus menemaniku tidur di kandang ayam. Bagaimana?" Anjing setuju dengan tawaran Kancil. Dia segera membuka gerendel pintu kandang, dan masuk. Dengan sigap, Kancil cepat-cepat keluar dari kandang.
"Terima kasih," kata Kancil sambil menutup kembali gerendel pintu. "Maaf Iho, aku terpaksa berbohong. Titip salam ya, buat Pak Tani. Dan tolong sampaikan maafku padanya." Kancil segera berlari meninggalkan rumah Pak Tani. Anjing yang malang itu baru menyadari kejadian sebenarnya ketika Kancil sudah menghilang.
Kancil tersenyum penuh arti. "Yah, terserah kalau kau tidak percaya. Lihat saja besok! Aku tidak bohong! "
Rupanya Anjing terpengaruh oleh kata-kata si Kancil. Dia meminta agar Kancil membujuk Pak Tani untuk mengajakn-ya pergi ke pesta.
"Oke, aku akan berusaha membujuk Pak Tani," janji Kancil. "Tapi malam ini kau harus menemaniku tidur di kandang ayam. Bagaimana?" Anjing setuju dengan tawaran Kancil. Dia segera membuka gerendel pintu kandang, dan masuk. Dengan sigap, Kancil cepat-cepat keluar dari kandang.
"Terima kasih," kata Kancil sambil menutup kembali gerendel pintu. "Maaf Iho, aku terpaksa berbohong. Titip salam ya, buat Pak Tani. Dan tolong sampaikan maafku padanya." Kancil segera berlari meninggalkan rumah Pak Tani. Anjing yang malang itu baru menyadari kejadian sebenarnya ketika Kancil sudah menghilang.
Labels:
Fabel
11.05
Kisah Singa dan Tikus
Seekor singa sedang tidur-tiduran di sebuah padang rumput di hutan. Perutnya lapar, karena sejak pagi tadi dia belum menyantap sesuap makanan pun. Tiba-tiba penciumannya serasa menemukan ada makanan di dekatnya. Dia mulai mencari-cari apa gerangan yang bisa dimakannya itu. Ternyata, seekor tikus sedang bermain-main di balik rerumputan. "Hai, tikus, tahukah kamu bahwa engkau telah menggangguku" kata singa sambul mengaum, memperlihatkan taringnya yang tajam "Aaauuuummmmmmm........!!" "Awas kau akan kujadikan santapan pertamaku hari ini". Dengan sigap dia meloncat, dan dalam sekejap, tikus kecil yang malang itu sudah berada dalam genggamannya. "Oh, singa yang baik, janganlah kau makan diriku," kata tikus itu ketakutan setengah mati. "Di rumahku tujuh ekor anakku sedang menungguku dan makanan yang sedang kubawa ini", tikus menghiba. Air matanya mulai menetes dari matanya. Dia menangis... cit...cit..cit...cit. "Ho...ho...ho.. aummmmm, aku tidak akan melepaskanmu tikus kecil. Perutku sudah lapaaaar sekali. Bisa pingsan aku kalau tidak makan sekarang," singa sudah bersiap hendak memasukkan tikus malang itu ke dalam mulutnya. "Hai, singa, bagaimana kalau kita buat perjanjian. Hari ini biarkan aku pergi. Aku berjanji akan menolongmu kelak jika kau dalam kesulitan," kata tikus mulai berani. "Bagaimana mungkin makhluk kecil sepertimu menolong aku yang kuat dan besar ini. ho..ho..ho.. aummmmm...!" Namun sang Singa kasihan juga akhirnya melihat Tikus kecil itu menangis. "Baiklah, kali ini kau kulepaskan. Lagian dagingmu pasti tidak bisa mengenyangkan perutku. Sana! cepat pergi...!!" Tikus dengan senang hati berlari meninggalkan singa sambil teriak, "Terima kasih singa...". Suatu hari tikus sedang berjalan-jalan di sekitar rumahnya. Tiba-tiba dia mendengar suara seekor singa sedang mengaum, tampaknya kesakitan. "Auummmmm.... aduuuuhhh... tolooong...tolooong." "Aku terkena perangkap pemburu nakal... tolooong, auuummmm." Tikus segera menghampiri asal suara itu. Rupanya singa masuk perangkap yang dibuat pemburu. "Jangan kawatir singa, aku datang menolongmu...!" Teriak tikus pada singa. "Cepatt! aku sudah tidak tahan lagi.... auuummmm." kata singa. Tikus segera melompat masuk kedalam lubang perangkap. Satu demi satu tali perangkap yang mengikat singa dia gigit hingga putus. Dan akhirnya... singa terbebas. Segara dia melompat keluar dari lubang perangkap. "Terima kasih Tikus, kalau tidak ada kamu, pasti aku sudah ditangkap pemburu nakal itu. Akhirnya sejak itu Singa dan Tikus bersahabat dan selalu bermain bersama. |
Labels:
Fabel
11.00
Kisah Kasuari dan Dara Mahkota
Dahulu kala burung kasuari tidak seperti yang kita kenal saat ini. Dia memiliki sayap yang lebar dan kuat sehingga ia bisa mencari makan di atas pohon yang tinggi tapi juga bisa dengan mudah mencari makan di atas tanah. Kelebihannya ini membuat Kasuari menjadi burung yang sombong. Dia sering berbuat curang saat berebut makanan dan tidak peduli jika teman-temannya yang lain kelaparan gara-gara dia. Sayapnya yang lebar biasa dia gunakan untuk menyembunyikan buah-buahan ranum di atas pohon, sehingga burung-burung lainnya tidak bisa melihatnya. Atau dengan sengaja dia menjatuhkan buah-buahan ranum itu ke tanah sehingga Cuma ia sendiri yang bisa menikmatinya. “Biar saja!” pikirnya, “Salah sendiri kenapa mereka punya sayap yang pendek dan badan yang kecil. Siapa cepat dia yang dapat.”
Tentu saja kesombongannya tidak disukai burung-burung lainnya. Mereka menganggap Kasuari sudah keterlaluan dan keangkuhannya harus segera dihentikan. Akhirnya para burung berkumpul untuk membahas masalah ini. Setelah berbagai cara diajukan akhirnya mereka sepakat untuk mengadakan perlombaan terbang. Namun ternyata sulit menemukan lawan yang sebanding dengan Kasuari. Tiba-tiba burung Dara Mahkota mengajukan diri untuk bertanding terbang dengan Kasuari. Meskipun banyak yang meragukan kemampuannya karena Dara Mahkota hanyalah burung kecil, tapi Dara Mahkota meyakinkan mereka bahwa dia mampu.
Mereka lalu mengirimkan tantangan tersebut kepada Kasuari. Kasuari yang sangat yakin dengan kemampuannya langsung menyanggupi tantangan tersebut tanpa repot-repot bertanya siapa lawannya.
“Pertandingannya akan diadakan minggu depan dan akan disaksikan semua warga burung!” kata burung pipit. “Yang bisa terbang paling jauh dan lama yang menang.”
“Ya ampun…kalo begitu pasti aku yang menang. Di hutan ini tidak ada yang memiliki sayap selebar dan sekuat punyaku. Jadi pasti aku yang menang,” kata Kasuari pongah. “Tapi baiklah aku terima tantangannya, lumayan buat olahrga!”
Burung pipit sebal mendengar jawaban Kasuari, tapi dia tahan emosinya. “Tapi ada ketentuannya. Sebelum bertanding, peserta boleh saling mematahkan sayap lawannya,” kata pipit. Kasuari pun menyetujuinya tanpa ragu-ragu.
“Pertandingannya akan diadakan minggu depan dan akan disaksikan semua warga burung!” kata burung pipit. “Yang bisa terbang paling jauh dan lama yang menang.”
“Ya ampun…kalo begitu pasti aku yang menang. Di hutan ini tidak ada yang memiliki sayap selebar dan sekuat punyaku. Jadi pasti aku yang menang,” kata Kasuari pongah. “Tapi baiklah aku terima tantangannya, lumayan buat olahrga!”
Burung pipit sebal mendengar jawaban Kasuari, tapi dia tahan emosinya. “Tapi ada ketentuannya. Sebelum bertanding, peserta boleh saling mematahkan sayap lawannya,” kata pipit. Kasuari pun menyetujuinya tanpa ragu-ragu.
Seminggu kemudian, warga burung berkumpul untuk meyaksikan pertandingan terbang tersebut. Meski tidak terlalu yakin, mereka semua berharap Dara Mahkota akan memenangkan pertandingan tersebut. Diam-diam Dara Mahkota menyisipkan sebilah ranting di balik sayapnya. Kasuari yang baru mengetahui lawannya tertawa terbahak-bahak, “ini lawanku?” katanya sambil tertawa, “mimpi kali kamu ye…? Hei…burung kecil, sayapmu pendek mana bisa menang melawanku!”. Burng-burung kecil lainnya sebal menyaksikan tingkah Kasuari sementara Dara Mahkota hanya tersenyum menanggapinya.
Kini mereka siap bertanding. Kasuari maju untuk mematahkan sayap Dara Mahkota. KREK! Terdengar bunyi sayap patah. Dara Mahkota pura-pura menjerit kesakitan. Padahal sebenarnya bunyi tadi berasal dari ranting kering di bawah sayap Dara Mahkota yang patah. Kini giliran Dara Mahkota yang akan mematahkan sayap Kasuari. Dengan sekuat tenaga dia menekuk sayap Kasuari hingga terdengar bunyi KREKK yang keras. Kasuari menjerit kesakitan. Sayap Kasuari yang patah tergantung lemas. Tapi Kasuari yang sombong tetap yakin dirinya akan menang.
Sekarang mereka sudah siap untuk bertanding. Ketika aba-aba dibunyikan, Dara Mahkota dengan ringan melesat ke udara. Sayapnya mengepak dengan mudah membawa tubuhnya yang mungil terbang ke angkasa. Kasuari terkejut dan heran karena tadi dia mengira sayap Dara Mahkota telah patah. Dengan panik dia mencoba mengepakan sayapnya dan mencoba mengangkat tubuhnya ke atas. Tapi bukannya terbang tinggi, tubuhnya malah meluncur ke bawah dan jatuh berdebum di tanah. Semua burung bersorak senang sementara Kasuari terkulai lemas. Dengan perasaan malu dia meninggalkan tempat itu. Sejak saat itu Kasuari tidak pernah bisa terbang. Sayapnya yang dulu lebar dan kuat kini memendek karena sudah patah. Kini meski dia disebut burung namun dia hanya bisa berjalan dan mencari makan di tanah seperti binatang lain yang tidak memiliki sayap.
Labels:
Fabel
10.55
Kisah Kambing dan Serigala
Seekor serigala yang kehausan tiba di tepi sebuah telaga. Ketika hendak minum dilihatnya seekor kambing sedang minum juga di tempat itu. Namun tidak seperti kambing-kambing lainnya yang akan kabur bila melihatnya, kambing yang satu ini tetap tenang meneruskan minumnya. Dengan heran, serigala mendekati kambing.
“Halo kambing! Apa kabar?”sapanya
“Oh, kabar baik serigala. Bagaimana denganmu?” balas kambing.
“Baik juga,” jawab serigala. “Ngomong-ngomong kenapa kau tak takut melihatku? Bukankah biasanya teman-temanmu akan kabur bila melihatku?”
“Halo kambing! Apa kabar?”sapanya
“Oh, kabar baik serigala. Bagaimana denganmu?” balas kambing.
“Baik juga,” jawab serigala. “Ngomong-ngomong kenapa kau tak takut melihatku? Bukankah biasanya teman-temanmu akan kabur bila melihatku?”
“Ah, kau lupa padaku?” tanya kambing. “Coba kau perhatikan aku baik-baik dan ingat-ingat, kau pasti mengenalku!”
Serigala mencoba untuk mengingat dimana dia pernah bertemu dengan kambng yang satu ini. Lalu tiba-tiba dia ingat, “o ya aku ingat! Bukankah kau kambing yang pernah menyelamatkanku?”
Serigala mencoba untuk mengingat dimana dia pernah bertemu dengan kambng yang satu ini. Lalu tiba-tiba dia ingat, “o ya aku ingat! Bukankah kau kambing yang pernah menyelamatkanku?”
Serigala ingat, saat itu dia sedang asyik memakan daging sapi buruannya ketika tiba-tiba terdengar bunyi letusan senapan dan jeritan kambing. Rupanya kambing menyeruduk si pemburu sehingga bidikannya luput dan serigala selamat.
“Maafkan aku kawan,” kata serigala. “Tadi aku hampir tidak mengenalimu. Terima kasih karena kau telah menyelamatkanku!”
“Sama-sama kawan!” kata kambing. Lalu kambing pun berpamitan. Dalam hati kambing bersyukur karena tidak jadi dimangsa oleh serigala.
“Maafkan aku kawan,” kata serigala. “Tadi aku hampir tidak mengenalimu. Terima kasih karena kau telah menyelamatkanku!”
“Sama-sama kawan!” kata kambing. Lalu kambing pun berpamitan. Dalam hati kambing bersyukur karena tidak jadi dimangsa oleh serigala.
Labels:
Fabel
09.05
Kisah Kelinci dan Kura-Kura
Di sebuah hutan kecil di pinggiran desa, ada seekor Kelinci yang sombong. Dia suka mengejek hewan-hewan lain yang lebih lemah. Hewan-hewan lain seperti kura-kura, siput, semut, dan hewan-hewan kecil lain tidak ada yang suka pada kelinci sombong itu.
Suatu hari, si Kelinci berjalan dengan angkuhnya mencari lawan yang lemah untuk diejeknya. Kebetulan dia bertemu dengan kura-kura.
"Hei, kura-kura, si lambat, kamu jangan jalan aja dong.. lari begitu, biar cepat sampai," kata Kelinci sambir mencibirkan bibirnya ke Kura-kura.
"Biarlah Kelinci, memang jalanku lambat. Yang penting aku sampai dengan selamat ke tempat tujuanku, daripada cepat-cepat nanti jatuh dan terluka," jawab Kura-kura dengan tenang.
"Hei, kura-kura, bagaimana kalau kita adu lari. Kalau kau bisa menang aku akan beri hadiah apapun yang kau minta," kata Kelinci dengan tertawa. Dalam hatinya dia berkata, "Mana mungkin dia akan bisa mengalahkanku."
"Wah, kelinci, mana mungkin aku bertanding adu cepat denganmu, Kamu bisa lari dan loncat dengan cepat, sedangkan aku berjalan selangkah demi selangkah sambil membawa rumahku yang berat ini," kata kura-kura.
"Nggak bisa, kamu nggak boleh menolak tantanganku ini. Pokoknya besok pagi aku tunggu kau di bawah pohon beringin. Aku akan menghubungi Pak Serigala untuk jadi wasitnya," Kelinci memaksa.
Kura-kura hanya bisa diam melongo. Dalam hatinya berkata, "Mana mungkin aku bisa mengalahkan Kelinci?"
Keesokan harinya Si Kelinci sudah menunggu dengan sombongnya di bawah pohon beringin. Pak Serigala juga sudah datang untuk menjadi wasit. Setelah kura-kura datang, Pak Serigala berkata, "Peraturannya begini, kalian mulai dari garis di sebelah sana yang di bawah pohon mangga itu. Kalian bisa lihat nggak?" "Bisa... bisa... ," Kelinci dan kura-kura menjawab. "Nah siapa yang bisa datang duluan di bawah pohon beringin ini, itulah yang menang," kata Pak Serigala lagi.
"Oke,... satu.... dua... tiga... mulai!" Pak Serigala memberi aba-aba. Kelinci segera meloncat mendahului kura-kura, yang mulai melangkah pelan, karena dia tidak bisa meninggalkan rumahnya. "Ayo kura-kura, lari dong.....!" teriak Kelinci dari kejauhan. "Baiklah aku tunggu di sini ya...," katanya lagi sambil mengejek kura-kura. Kelinci duduk-duduk sambil bernyanyi. Angin waktu itu berhembus pelan dan sejuk, sehingga membuat Kelinci menjadi mengantuk, dan, tak lama kemudian Kelinci pun tertidur!
Dengan pelan tapi pasti kura-kura melangkah sekuat tenaga. dengan diam-diam dia melewati Kelinci yang tertidur pulas. Beberapa langkah lagi dia akan mencapai finish. Ketika itulah Kelinci bangun. Betapa terkejutnya dia ketika melihat kura-kura sudah hampir mencapai finish. Sekuat tenaga dia berlari dan meloncat untuk mengejar kura-kura. Namun sudah terlambat, kaki kura-kura telah menyentuh garis finish dan Pak Serigala telah memutuskan bahwa pemenangnya adalah KURA-KURA. Si Kelinci Sombong terdiam seolah tak percaya bahwa dia bisa tertidur.
"Nah, siapa yang menang Kelinci?" tanya kura-kura kepada kelinci. "Wah, ternyata kau menang kura-kura," jawab kelinci malu. "Sekarang aku hanya minta satu dari kamu, kamu jangan sombong lagi, jangan suka mengejek lagi, dan jangan nakal, ya?" kata kura-kura. "Iya lah kura-kura, mulai sekarang aku tidak akan sombong lagi, tidak akan mengejek lagi. Maafkan aku ya," kata kelinci. "Iya, nggak apa-apa, sekarang kita berteman ya?" kata kura-kura. Sejak saat itu Kelinci tidak sombong lagi.
Labels:
Fabel
09.00
Kisah Kancil dan Buaya
Pada zaman dahulu Sang Kancil adalah merupakan binatang yang paling cerdik di dalam hutan. Banyak binatang-binatang di dalam hutan datang kepadanya untuk meminta pertolongan apabila mereka menghadapi masalah. Walaupun ia menjadi tempat tumpuan binatang- binatang di dalam hutan, tetapi ia tidak menunjukkan sikap yang sombong malah sedia membantu pada bila-bila masa saja.
Suatu hari Sang Kancil berjalan-jalan di dalam hutan untuk mencari makanan. Oleh kerana makanan di sekitar kawasan kediaman telah berkurangan Sang Kancil bercadang untuk mencari di luar kawasan kediamannya. Cuaca pada hari tersebut sangat panas, menyebabkan Sang Kancil berasa dahaga kerana terlalu lama berjalan, lalu ia berusaha mencari sungai yang berdekatan. Setelah meredah hutan akhirnya kancil berjumpa dengan sebatang sungai yang sangat jernih airnya. Tanpa membuang masa Sang Kancil terus minum dengan sepuas-puasnya. Kedinginan air sungai tersebut telah menghilangkan rasa dahaga Sang Kancil.
Kancil terus berjalan-jalan menyusuri tebing sungai, apabila terasa penat ia berehat sebentar di bawah pohon beringin yang sangat rendang di sekitar kawasan tersebut. Kancil berkata didalam hatinya "Aku mesti bersabar jika ingin mendapat makanan yang lazat-lazat". Setelah kepenatannya hilang, Sang Kancil menyusuri tebing sungai tersebut sambil memakan dedaun kegemarannya yang terdapat disekitarnya. Apabila tiba di satu kawasan yang agak lapang, Sang Kancil terpandang kebun buah-buahan yang sedang masak ranum di seberang sungai."Alangkah enaknya jika aku dapat menyeberangi sungai ini dan dapat menikmati buah-buahan tersebut" fikir Sang Kancil.
Sang Kancil terus berfikir mencari akal bagaimana untuk menyeberangi sungai yang sangat dalam lagi deras arusnya. Tiba-tiba Sang Kacil terpandang Sang Buaya yang sedang asyik berjemur di tebing sungai. Sudah menjadi kebiasaan buaya apabila hari panas ia suka berjemur untuk mendapat cahaya matahari.Tanpa berlengah-lengah lagi kancil terus menghampiri buaya yang sedang berjemur lalu berkata " Hai sabahatku Sang Buaya, apa khabar kamu pada hari ini?" buaya yang sedang asyik menikmati cahaya matahari terus membuka mata dan didapati sang kancil yang menegurnya tadi "Khabar baik sahabatku Sang Kancil" sambung buaya lagi "Apakah yang menyebabkan kamu datang ke mari?" jawab Sang Kancil "Aku membawa khabar gembira untuk kamu" mendengar kata-kata Sang Kacil, Sang Buaya tidak sabar lagi ingin mendengar khabar yang dibawa oleh Sang Kancil lalu berkata "Ceritakan kepada ku apakah yang engkau hendak sampaikan".
Kancil berkata "Aku diperintahkan oleh Raja Sulaiman supaya menghitung jumlah buaya yang terdapat di dalam sungai ini kerana Raja Sulaiman ingin memberi hadiah kepada kamu semua". Mendengar saja nama Raja Sulaiman sudah menggerunkan semua binatang kerana Nabi Sulaiman telah diberi kebesaran oleh Allah untuk memerintah semua makhluk di muka bumi ini. "Baiklah, kamu tunggu di sini, aku akan turun kedasar sungai untuk memanggil semua kawan aku" kata Sang Buaya. Sementara itu Sang Kancil sudah berangan-angan untuk menikmati buah-buahan. Tidak lama kemudian semua buaya yang berada di dasar sungai berkumpul di tebing sungai. Sang Kancil berkata "Hai buaya sekelian, aku telah diperintahkan oleh Nabi Saulaiman supaya menghitung jumlah kamu semua kerana Nabi Sulaiman akan memberi hadiah yang istimewa pada hari ini". Kata kancil lagi "Beraturlah kamu merentasi sungai bermula daripada tebing sebelah sini sehingga ke tebing sebelah sana".
Oleh kerana perintah tersebut adalah datangnya daripada Nabi Sulaiman semua buaya segera beratur tanpa membantah. Kata Buaya tadi "Sekarang hitunglah, kami sudah bersedia" Sang Kancil mengambil sepotong kayu yang berada di situ lalu melompat ke atas buaya yang pertama di tepi sungai dan ia mula menghitung dengan menyebut "Satu dua tiga lekuk, jantan betina aku ketuk" sambil mengetuk kepala buaya begitulah sehingga kancil berjaya menyeberangi sungai. Apabila sampai ditebing sana kancil terus melompat ke atas tebing sungai sambil bersorak kegembiraan dan berkata" Hai buaya-buaya sekalian, tahukah kamu bahawa aku telah menipu kamu semua dan tidak ada hadiah yang akan diberikan oleh Nabi Sulaiman".
Mendengar kata-kata Sang Kancil semua buaya berasa marah dan malu kerana mereka telah di tipu oleh kancil. Mereka bersumpah dan tidak akan melepaskan Sang Kancil apabila bertemu pada masa akan datang. Dendam buaya tersebut terus membara sehingga hari ini. Sementara itu Sang Kancil terus melompat kegembiraan dan terus meniggalkan buaya-buaya tersebut dan terus menghilangkan diri di dalam kebun buah-buahan untuk menikmati buah-buahan yang sedang masak ranum itu.
Labels:
Fabel











